Malam terasa kelam seakan hari esok takan datang
Hadirkan satu bintang dalam fikiran
Namun semua menjadi beban
Bukan karna beban bukan juga rintangan
Namun ini soal keyakinan
Untuk meyakinkan padamu bintang.
Sorot mata yg berbinar tak dapat ku baca
Entah apa yg tersirat dalam biasnya cahyamu
Entahlah aku tak mengerti
Karna terlalu banyak misteri yg tersimpan.
Bukan hanya resah namun juga gelisah
Nafas ini tak teratur karna detak jantung tak terukur
Bayanganmu yg hadir seolah menjadi ritual sebelum tidur.
Hanya butuh satu kepastian untuk sebuah kesetiaan
Bukan penantian yg harus di buktikan namun ahirnya tenggelam dan
mati membusuk menjadi bangkai.
Disudut ruang hampa ku urai cerita
Mendera sesak dalam
jiwa yg hampa
Kamar yg pengap menjadi saksi air mata
Saat ku
ingat sepekan saat masih bersamanya
Bagai renjana yg menghunus
tepat d jantungku
Entah kenapa kau pergi setelah torehkan
luka
Pertemuan itu menjadi salam perpisahan
Setelah memberi
sedikit cahaya
Yg kini kau redupkan setelahnya.
Harusnya
kau cabik aku dengan sumpah serapahmu
Agar saat kau pergi aku
melambaikan tanganku
Bukan malah dengan madu kau racuni aku
Yang
kemudian perlahan membunuhku
Subscribe to:
Comments (Atom)

